jnrt

20090327163121

ALASAN BER-MLM

SESEORANG tertarik menjadi member suatu MLM, umumnya karena ingin memperoleh penghasilan tambahan seperti orang-orang MLM yang menyeponsorinya atau mengajaknya datang ke pertemuan-pertemuan bisnis MLM, misalnya datang ke OPP, datang ke infonite, datang ke seminar-seminar. Sebagian dari mereka tertarik dengan janji bebas finansial dan bebas waktu menjalankan usaha MLM. Sebagian lagi sangat tergiur oleh janji passive income hingga jutaan rupiah setiap bulan tanpa harus kerja apa pun.

DARIMANA BONUS MLM?

Untuk menelusuri dari mana bonus MLM dibayarkan oleh perusahaan, maka kita harus mempelajarinya dengan memperbandingkan dua macam sistem pemasaran (penjualan barang) yaitu antara Retailer konvensional dan Sistem MLM. Bagaimanapun, bonus MLM adalah setara dengan “keuntungan” retailer yang merupakan selisih harga “kulakan” (harga pokok dari perusahaan atau agen) dengan harga konsumen akhir yang membeli di retailer yang bersangkutan. Perbedaannya terletak pada “biaya pemasaran” dan pembagian keuntungan. Ilustrasinya sebagai berikut:
hrg-rtl hrg-mlm

Kita umpamakan kedua macam sistem pemasaran di atas mempunyai harga produk dari pabrik yang sama, yaitu 50% harga akhir yang dibeli konsumen. Pada kedua sistem, pabrik (produsen produk) memperoleh keuntungan yang sama yaitu 15% harga akhir, dan seluruh proses produksi sudah terbayar dengan biaya pabrik yang 10%. Ketika berbicara keuntungan akhir, maka jelas terlihat bedanya antara keuntungan retailer (pengecer) dengan bonus (fee) yang diterima oleh member MLM. Keuntungan pengecer termasuk dalam bagian “biaya distribusi” yang besarnya tergantung dari perjanjian antara agen (distributor) dengan pengecer yang bersangkutan. Fee member MLM seharusnya adalah bagian dari keuntungan MLM yang mencapai 50% harga akhir produk. Pembeda keuntungan dari member MLM adalah sistem yang ditentukan oleh perusahaan MLM masing-masing yang menyangkut marketing plan, format jaringan dan perhitungan bonus. Jadi secara umum perbedaan sistem distributsi produk antara sistem retailer konvensional dan sistem MLM adalah sebagai berikut.

dist-mlm

TEROBOSAN SISTEM MLM PT MNI

Biasanya dalam sistem MLM, omset member dan jaringannya tidak langsung dihitung “uangnya” melainkan dikonversi ke bentuk POIN. Jumlah poin marketing dalam satu bulan dikumpulkan untuk menentukan peringkat dan nilai bonus total seorang member setelah dikurangi oleh perolehan poin masing-masing downline dalam jaringannya. Nilai Bonus itu akan cair bulan berikutnya setelah member yang bersangkutan melakukan belanja minimal tertentu sebagai syarat. Kewajiban belanja minimal ini disebut dengan Tutup Poin atau Pay To Play transaction.

Padahal dalam kenyataannya setiap member MLM yang aktif sudah menciptakan omzet bagi perusahaan, berapapun nilainya. Dalam sistem penjualan langsung maka jika ada omzet sebesar apapapun, seharusnya pembuat omzet memperoleh marketing fee-nya tanpa syarat apapun. Syarat fee hanya satu, yaitu OMZET. Kewajiban tutup poin ini sering membuat seorang member mengalami tiga kemungkinan, yaitu:

  1. konsumen aktif bagi produk yang mereka pasarkan, sehingga dia menjadi stockiest atau gudang produk, karena mereka harus belanja produk tertentu untuk memenuhi syarat cairnya bonus
  2. manjadi tenaga sales tanpa honor, karena honor sudah digabungkan dengan “janji” bonus yang harus ditebus dengan ‘lakunya’ produk yang dia pasarkan
  3. tidak melakukan tutup poin, karena ternnyata pengeluaran untuk tutup poin tidak sebanding dengan nilai bonus yang mereka terima.

Pada kenyataannya kemungkinan ke-3 yang banyak terjadi. Maka, jika seorang member berhasil memberikan omzet kepada perusahaan, baik karena dia belanja produk atau menjualkan produk, tetapi tidak melakukan tutup poin, marketing fee sebagai hasil kerja dia selama sebulan tidak dibayarkan. Hal ini berarti keuntungan perusahaan menjadi sangat-sangat besar sekali, sehingga dapat menjanjikan berbagai reward untuk member-member level atas yang berhasil mempertahankan omzet dan rajin melakukan tutup poin.

Hal itu tentunya tidak adil. Sistem MLM menjadi sangat berpihak kepada perusahaan. Apalagi didukung oleh sistem perhitungan bonus yang rumit, dengan jenis bonus yang beraneka ragam. Karena rumitnya, para member menjadi tidak peduli akan hal itu, kecuali hanya memperhatikan angka PERSENTASE bonus dan PERINGKAT MANAJERIAL yang mereka sandang.

Oleh karena itu, PT Melia Nature Indonesia, melakukan terobosan sistem pemasaran MLM yang sangat sesuai dengan surat ijin usaha mereka dari Departemen Perdagangan RI, yaitu Surat Ijin Usaha Penjualan Langsung. Prinsip  bonus PT MNI sangat sederhana hanya dua syaratSyarat pertama adalah member menciptakan OMZET pribadi  karena berhasil menyeponsori member baru, yang dibayarkan sebagai Bonus Sponsor. Syarat kedua adalah terjadi perkembangan jaringan yang imbang antara jaringan kaki kiri dan jaringan kaki kanan, minimal masing-masing ada omzet 2 unit usaha dan maksimal (yang diperhitungkan bonusnya) masing-masing terjadi omzet 10 unit usaha, baik karena member yang bersangkutan menyeponsori member-member baru, atau ada tambahan member dari para upline-nya atau karena para downlinenya berhasil mengembangkan jaringan masing-masing. Pemenuhan syarat kedua ini dibayarkan sebagai Bonus Leadership.

Terobosan lain adalah cepatnya pembayaran. Perkembangan jaringan, jumlah omzet pribadi dan omzet  jaringan serta perhitungan bonusnya diperhitungkan secara harian. Pembayaran bonusnya juga harian. Ada dua macam bonus harian yaitu Bonus Sponsor dan Bonus Leadership. Hasil dan akumulasi perkembangan bonus harian ini akan menghasilkan 1) belanja otomatis dan 2) Bonus Unilevel yang dibayarkan bulanan.

Dengan pembayaran bonus secara harian dan belanja ulang dipotong dari bonus harian sampai nilai maksimal tertentu setiap bulan, telah membebaskan member PT MNI dari kewajiban TUTUP POIN. Selain itu, member PT MNI juga tidak dibeda-bedakan berdasarkan peringkat. Kedudukan mereka seragam, yaitu sebagai DISTRIBUTOR dua macam produk PT MNI merangkap sebagai LEADER dari jaringan masing-masing.

Comments are closed.